SERANG, Lorongnews.id — Patung Momentum yang selama ini menjadi salah satu bagian dari wajah Alun-Alun Kota Serang kini telah dihancurkan. Di lokasi tersebut, kawasan alun-alun akan ditata dan diubah dengan menghadirkan fasilitas air mancur.
Perubahan wajah ruang publik tentu bukan persoalan yang tabu. Kota membutuhkan pembangunan dan penataan agar semakin nyaman, menarik, serta mampu mengikuti perkembangan zaman.
Namun, pembangunan juga menyisakan pertanyaan yang patut dijawab secara terbuka: ketika sebuah simbol yang telah dikenal masyarakat selama bertahun-tahun dihilangkan, apakah pertimbangan sejarah, identitas kota, dan kenangan warga turut menjadi bagian dari perencanaan?
Patung Momentum mungkin hanya sebuah bangunan bagi sebagian orang. Tetapi bagi sebagian warga lainnya, keberadaannya merupakan bagian dari memori tentang Kota Serang. Ia menjadi salah satu titik yang dikenal dan melekat dalam ingatan masyarakat ketika menyebut kawasan alun-alun.
Karena itu, perubahan tersebut tidak semestinya hanya diukur dari apakah air mancur nantinya terlihat lebih modern atau lebih menarik secara visual.
Pertanyaan yang lebih mendasar adalah apa alasan Patung Momentum harus dihilangkan, bagaimana konsep penataan barunya, dan sejauh mana masyarakat diberikan informasi mengenai perubahan tersebut?
Banyak kota justru mampu mempertahankan identitas masa lalu sekaligus menghadirkan fasilitas baru yang lebih modern. Unsur sejarah dan simbol kota dapat dipadukan dengan desain ruang publik kekinian, sehingga pembangunan tidak hanya menghasilkan wajah baru, tetapi juga mempertahankan karakter kota.
Di sisi lain, aspek transparansi juga menjadi hal penting. Sebagai ruang publik yang berkaitan dengan pembangunan pemerintah, masyarakat wajar apabila ingin mengetahui konsep pekerjaan, sumber dan besaran anggaran, tujuan pembangunan, manfaat bagi masyarakat, hingga alasan perubahan fungsi kawasan tersebut.
Keterbukaan informasi bukan berarti menghambat pembangunan. Justru komunikasi yang baik dapat mencegah munculnya prasangka dan memastikan masyarakat memahami arah kebijakan pemerintah.
Masyarakat pun tidak sedang mengatakan bahwa pembangunan harus dihentikan. Kritik dan pertanyaan terhadap perubahan ruang publik merupakan bagian dari kepedulian terhadap kota.
Sebab, yang dibangun bukan sekadar taman atau air mancur, tetapi ruang yang menjadi milik dan digunakan masyarakat.
Alun-Alun Kota Serang idealnya bukan hanya menjadi ruang yang indah dipandang, tetapi juga ruang yang mempunyai identitas dan cerita.
Air mancur boleh menjadi ikon baru. Namun, jangan sampai kehadiran ikon baru justru membuat masyarakat kehilangan jejak dari ikon lama yang pernah menjadi bagian dari perjalanan kota.
Pada akhirnya, publik tentu akan menilai hasilnya.
Jika penataan tersebut benar-benar mampu membuat Alun-Alun Kota Serang lebih baik, nyaman, fungsional, dan memberikan manfaat luas bagi masyarakat, tentu pembangunan layak diapresiasi.
Tetapi jika perubahan hanya berhenti pada pergantian bentuk fisik tanpa memperhatikan identitas dan kebutuhan masyarakat, maka pertanyaan publik akan tetap relevan.
Serang memang harus berubah. Serang boleh modern. Tetapi modern bukan berarti harus melupakan sejarah dan kenangan.
Karena ketika sebuah bangunan dihancurkan, yang hilang bukan selalu sekadar beton dan bentuk fisiknya. Bisa jadi, sebagian kecil dari memori sebuah kota ikut terkubur bersamanya.
Penulis: Ririn Oktabria Ramadan
Mahasiswa Program Studi Administrasi Negara, Universitas Pamulang (UNPAM) Serang
Didampingi:
Angga Rosidin, S.I.P., M.A.P.
Zakaria Habib Al-Ra’zie, S.I.P., M.Sos.
(red)





























