LAMPUNG SELATAN, LORONGNEWS.id – Dunia pers di Lampung Selatan tengah memasuki babak baru yang menggegerkan. Pemberitaan salah satu media daring, www.newslampung.co, yang menuding Ketua IWO Indonesia (IWOI) Lampung Selatan, Hari Prasetyo Wibowo, melakukan mark up absensi demi uang transportasi, kini berbalik arah menjadi bom waktu. Tidak hanya dinilai fitnah, pemberitaan itu juga disebut telah mencatut nama organisasi secara semena-mena, Selasa (16/9/2025).
Reaksi keras bermunculan. IWO Indonesia tidak tinggal diam. Dari tingkat daerah hingga pusat, suara lantang menyebut media tersebut sudah kelewat batas. “Kami anggap ini serangan terhadap integritas organisasi pers. Jangan main-main dengan nama besar IWO Indonesia. Kalau tidak ada klarifikasi, kami siap perang media,” tegas Sekretaris DPW IWOI Lampung, Ferry Faizin IM, dengan nada penuh amarah.
Hari Prasetyo sendiri, yang namanya dicatut, menegaskan bahwa ia hadir di HUT Partai Demokrat di kantor DPC Demokrat Lampung Selatan sebagai kader partai, bukan dalam kapasitas Ketua IWOI. “Saya hadir sebagai kader Demokrat, bukan membawa nama organisasi. Sangat disayangkan kalau pemberitaan itu menyeret IWOI, padahal jelas saya mengenakan seragam partai, bukan atribut organisasi,” katanya.
Dugaan fitnah ini juga ditepis keras oleh Ketua DPC GWI Lampung Selatan, Beddi. Ia bahkan menyebut pemberitaan itu jauh dari fakta. “Saya dapat uang transport di acara itu, dan nama saya tidak pernah dicatut. Kenapa organisasi yang malah dibawa-bawa? Jelas ini upaya menjatuhkan nama baik,” ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris DPC GWI Lamsel, Asroni, tak kalah pedas. Ia menilai tuduhan mark up absensi hanyalah upaya menciptakan sensasi murahan. “Saya datang terakhir bersama dua orang lainnya, malah si Hari yang mencarikan kami uang transport. Jadi tudingan mark up itu jelas fitnah. Ini sudah masuk kategori pembunuhan karakter,” katanya.
Situasi makin panas karena DPW IWOI Lampung sudah melaporkan langsung kasus ini ke DPP. Bahkan, DPP disebut siap meluncurkan somasi keras jika media tersebut tidak segera menarik dan mengklarifikasi pemberitaannya. “Langkah hukum sedang disiapkan. Kalau ini dibiarkan, bukan tidak mungkin akan memicu konflik terbuka antar organisasi pers di Lampung. Kami tidak segan untuk menghadapinya,” ujar Ferry.
Pengamat media menilai, kasus ini bisa menjadi titik rawan yang memicu perseteruan besar di kalangan insan pers Lampung. Pers yang seharusnya menjadi pilar informasi, justru terancam terjebak dalam perang wacana antar organisasi. “Jika tidak segera diredam, publik akan menyaksikan perang terbuka antara jurnalis dan organisasi pers. Ini bahaya, karena bisa menggerus kepercayaan masyarakat terhadap media,” ujar seorang pemerhati komunikasi di Bandar Lampung.
Kini bola panas ada di tangan www.newslampung.co. Apakah mereka akan meminta maaf dan mengklarifikasi, atau justru melawan hingga bersiap menghadapi gelombang perlawanan IWO Indonesia? Satu hal yang pasti, kasus ini bukan sekadar isu absensi dan uang transport, melainkan harga diri dan marwah organisasi pers yang dipertaruhkan.
(Red)





























